- Informasi Ilmiah

Kaya Protein, Cacing Poliket Bisa Jadi Sumber Pangan Alternatif

Kaya Protein, Cacing Poliket Bisa Jadi Sumber Pangan Alternatif Sumber pangan alternatif merupakan solusi untuk menangani persoalan gizi. Yang harus kami kembangkan adalah cacing poliket. Apakah itu terlalu bergizi?

Kaya Protein, Cacing Poliket Bisa Jadi Sumber Pangan Alternatif

Ploslabs – Menurut peneliti di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Joko Pamunkas, cacing poliket mempunyai kandungan banyak protein.

Polychaetes adalah cacing tersegmentasi yang juga di dalam filum Polychaete, Annelid. Cacing poliket terhadap dasarnya ditemukan di semua perairan payau dan laut Indonesia, menjadi berasal berasal dari pesisir hingga laut dalam.

Baca Juga  : Terra Drone Buat Sistem Pengawasan Menggunakan Drone Berteknologi AI

Ciri khasnya, cacing berikut ini miliki banyak bulu di sekujur tubuhnya, cocok bersama dengan namanya. Dengan kata lain, “poly” artinya banyak, dan “chaeta” artinya rambut.

Joko menjelaskan, cacing poliket miliki beberapa keunggulan, antara lain pakan alami udang dan ikan, indikator biologis pencemaran air, dan sumber pakan alternatif untuk populasi tertentu.

Namun kelompok cacing poliket yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Marc dan NTB beberapa besar berasal berasal dari suku Eunicidae dan Nereididae.

Ini tentang kebolehan untuk berkembang biak bersama dengan cara epitoky. Dengan kata lain, terhadap kala khusus nampak di dalam kuantitas yang melimpah di permukaan air dan tidak sanggup bertelur.

Cacing laut poliket sanggup dijadikan sebagai pakan alami karena mempunyai kandungan protein tinggi yang sanggup merangsang perkembangan ikan dan udang bersama dengan baik.

Pak Shiroko menyebutkan bahwa selama ini masyarakat Indonesia anggota barat cuma mendapatkan cacing laut yang sanggup dimakan bersama dengan jelas, tetapi tidak tahu apa morfologi dan kegunaannya.

Baca Juga : Keunggulan Chipset Exynos 2200 yang Akan Datang

Di Indonesia anggota timur, terkandung cacing laut yang dimodelkan sebagai cacing wawo dan nyale yang sanggup dikonsumsi oleh manusia. Hewan-hewan berikut biasanya nampak secara terlalu berlebih sekali atau dua kali setahun, terhadap bulan Februari atau Maret.

Cacing berikut biasanya hidup di dasar laut, tetapi terhadap waktu-waktu khusus mencapai permukaan di dalam kuantitas yang sedikit. Wow cacing biasanya nampak sementara setelah matahari terbenam.

Tujuan cacing wow atau laor nampak di permukaan laut adalah untuk berkembang biak. Akibatnya, nyaris semua tubuh pria mempunyai kandungan sperma, dan individu wanita mempunyai kandungan telur.

Karena itu, dosis proteinnya terlalu tinggi. Dalam keadaan seperti itu, tubuh biota laut terlalu ringan hancur dan hewan berikutnya mati setelah pemijahan.

Cacing wawo yang dikenal oleh masyarakat Ambon sebagai laor miliki dosis protein yang tinggi, lebih-lebih lebih tinggi berasal dari telur.

Di sisi lain, di Lombok, cacing Niere dapat nampak kala fajar. tiap-tiap saat. Pada bulan Februari atau Maret, masyarakat setempat dan wisatawan berlomba-lomba menangkap cacing laut yang disebut Nyar di acara Festival Baunyar yang turun-temurun.

Dibutuhkan lebih kurang 2-3 jam sehingga nieres merah dan hijau nampak di permukaan air.