- Berita Ilmu Pengetahuan

81 Persen Perusahaan di Indonesia Alami Kebocoran Data

81 Persen Perusahaan di Indonesia Alami Kebocoran Data Trend Micro, sebuah perusahaan keamanan siber, mengungkapkan bahwa telah terjadi peningkatan serangan siber dalam satu tahun terakhir.

81 Persen Perusahaan di Indonesia Alami Kebocoran Data

Ploslabs – Berdasarkan survei terbaru, 81% perusahaan di Indonesia mengalami kebocoran knowledge pelanggan didalam 12 bulan ke depan. Temuan berikut adalah hasil laporan Trend Micro yang dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu Cyber Risk Index (CRI), yang mengukur kesenjangan antara kesiapan keamanan siber responden dengan kemungkinan diserang.

Baca Juga : Samsung Ciptakan Smartphone yang Bisa Digulung dan Dilipat Sekaligus

“Berdasarkan temuan di Indonesia, kami telah melihat peningkatan kecemasan tentang risiko kebocoran data. Ini membutuhkan respon yang cepat karena serangan siber berdampak nyata pada perusahaan,” kata Laksana Budiwiyono, Country Manager, Trend Micro Indonesia.

Pada paruh pertama th. 2021, CRI bakal melaksanakan survei pada lebih berasal dari 3.600 usaha berasal dari beraneka ukuran dan industri di 24 negara, termasuk Indonesia.

CRI diukur pada skala -10 sampai 10 dimana skor -10 mewakili tingkat risiko tertinggi. Cyber Risk Index Indonesia sementara ini berada terhadap level -0,12 yang juga dalam kategori Elevated Risk.

Dibandingkan th. Tahun 2020, nilai CRI Indonesia mengalami penurunan yang berarti Indonesia saat ini mengalami peningkatan risiko.

Dengan lebih dari 1/2 responden mengindikasikan kebocoran data pelanggan dalam 12 bulan terakhir, perusahaan perlu lebih siap dengan mengidentifikasi data penting yang memiliki risiko tinggi, fokus pada ancaman yang berdampak besar pada bisnis, dan menggunakan layanan berlapis. dengan platform yang komprehensif dan komprehensif. terhubung satu sama lain.

Hasil survei menunjukkan tiga akibat negatif dari serangan siber yang menjadi perhatian terbesar di Indonesia, yaitu hilangnya kekayaan intelektual (termasuk rahasia dagang), gangguan atau kerusakan infrastruktur kritis dan biaya layanan yang harus dibayar konsultan atau tenaga ahli dari luar negeri. perusahaan.

Baca Juga : Chipset Google Bakal Dipakai di Perangkat Tablet dan Chromebook

Sementara temuan di Indonesia saja, 65% perusahaan di Indonesia menjelaskan kemungkinan mengalami serangan siber nyata dalam 12 bulan ke depan, 28% mengalami 7+ serangan siber pada jaringan/sistem, 20% mengatakan mereka mengalami 7+ pembobolan informasi aset dan 29% responden menjelaskan telah mengalami 7+ pelanggaran pengetahuan pelanggan selama setahun terakhir

Dalam laporan ini, ditemukan bahwa Ransomware dan Malicious Insiders adalah dua jenis serangan cyber yang menjadi perhatian utama perusahaan di Indonesia berdasarkan laporan CRI ini.

Serangan siber dinilai cukup berisiko karena menyasar keamanan pada infrastruktur TI yang dinilai memiliki risiko tertinggi antara lain penyedia dan infrastruktur cloud computing, kompleksitas di dalam perusahaan, dan kurangnya tim yang memiliki keahlian yang dibutuhkan.

Beberapa tantangan utama dalam kesiapsiagaan keamanan siber yang ditunjukkan dalam hasil survei CRI antara lain kurangnya keselarasan antara target keamanan TI dengan target bisnis dan juga kurangnya diskusi dan berbagi informasi tentang intelijen ancaman antara perusahaan dan pemerintah yang cukup penting dalam mengatasi serangan siber.